Potret Klasik Hiroshima dan Nagasaki, Bukti Betapa Merusaknya Bom Atom

Perang Dunia II memang telah berakhir, menyisakan banyak hal yang penting untuk dipelajari oleh umat manusia. Tak terkecuali penggunaan senjata bom atom oleh Amerika Serikat terhadap Jepang. Bom ini digunakan untuk pertama dan terakhir kalinya pada 6 dan 9 Agustus di Hiroshima dan Nagasaki yang kemudian menandai ujung dari Perang Dunia II.

Korban Jiwa Akibat Bom Atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang

Berbagai potret klasik menunjukkan bagaimana kehancuran yang dialami oleh Kota Hiroshima menyisakan puing bangunan yang tak lagi berbentuk. Korban meninggal oleh ledakan bom atom Hiroshima disebutkan mencapai 140.000 jiwa dari total populasi 350.000 jiwa. Di lain sisi, tercatat setidaknya 74.000 korban tewas berada di Kota Nagasaki.

Kepedihan berlanjut dengan radiasi yang dilepaskan oleh ledakan bom nuklir membuat ribuan korban lainnya tewas dalam hitungan minggu atau yang lebih perlahan dalam hitungan tahun pasca ledakan. Tak hanya itu, penduduk Jepang yang berhasil selamat dari ledakan bom atom tersebut, atau disebut sebagai hibakusha, harus bertahan hidup dalam trauma psikologis dan hal mengerikan lain.

Perang Dunia II yang berkecamuk di wilayah Eropa berakhir pada 7 Mei 1945 dimana pihak Sekutu kemudian juga meminta kepada Jepang untuk menyerah tanpa syarat pada 28 Juli. Dalam catatan diperkirakan 71.000 pasukan Inggris dan negara Persemakmuran tewas untuk memerangi Jepang. Selain itu, tercatat ada lebih dari 12.000 tawanan perang yang tewas di bawah tahanan Jepang. Jatuhnya Jerman bahkan tak membuat Jepang mau menyerah begitu saja dan memilih mengabaikan tenggat waktu yang diberikan.

Tanggal 6 Agustus 1945, pukul 8 pagi waktu Jepang, sebuah bom atom dijatuhkan di Hiroshima oleh pesawat bomber B-29 milik Amerika yang bernama Enola Gay. Bom yang dijatuhkan tersebut diberi nama Little Boy dengan kekuatan setara 12.000 – 15.000 ton TNT. Bom ini sanggup menyapu bersih area permukaan seluas 13 kilometer persegi yang dibuktikan dengan hancurnya lebih dari 60% bangunan di Kota Hiroshima.  

Kekuatan dari bom atom tersebut bahkan membuat bayangan seseorang yang terpapar cahaya ledakan membekas dengan jelas di atas sebuah tangga batu. Pada potret klasik lainnya juga memperlihatkan bagaimana bayangan tiang jembatan membekas di atas aspal. Potret-potret tersebut membuktikan bagaimana dahsyatnya bom atom. 

Setelah dijatuhi sebuah bom yang juga menjadi sebuah mimpi buruk, faktanya kekaisaran dan militer Jepang masih belum tergerak untuk menyerah. Selang 3 harui kemudian, kembali sebuah bom atom dijatuhkan kembali oleh bomber milik AS. Nagasaki menjadi kota lain yang mengalami bagaimana dahsyatnya bom atom tepat pada jam 11.02 waktu Jepang. Sebuah awan jamur raksasa kembali mengepul di langit Jepang untuk kedua kalinya.

Reiko Hada, seorang korban selamat dari bom atom Nagasaki mengisahkan bahwa dirinya masih kecil pada masa itu. Ia mengisahkan pengalamannya pada saat bom tersebut meledak. Hada mengingat bahwa ia masih sempat melangkahkan kakinya ke dalam rumah hingga ledakan tersebut terjadi. Cahaya menyilaukan mata berwarna kuning, coklat dan jingga seketika berubah menjadi putih. Semua terjadi begitu cepat hingga ia tak sempat bertanya-tanya. Ia kemudian jatuh pingsan usai mendengar gemuruh yang begitu keras.

Hada juga menyaksikan sendiri bagaimana korban mengalami luka serius akibat ledakan bom atom di Nagasaki. Ia menyebutkan banyak orang menyelamatkan diri dari Gunung Konpira ke daerahnya dalam kondisi yang sudah tak seperti manusia dan sulit dikenali. Korban berdatangan meminta air dalam kondisi luka bakar yang teramat parah. Mereka kemudian dibawa ke sebuah aula perguruan tinggi terdekat agar bisa berbaring dan dirawat walaupun pada akhirnya mereka mati satu per satu.

Sebuah potret juga memperlihatkan bagaimana sisa ledakan mencemari udara di Hiroshima hingga beberapa bulan berikutnya. Kondisi yang memaksa warga dan anak-anak harus selalu mengenakan masker demi meghindari dampak lanjutan dari bom atom. Di lain sisi, pemerintah juga mulai mengirimkan logistik untuk kembali membangun kota yang telah rata dengan tanah.  

Meskipun berhasil menyudahi Perang Dunia II, penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ini merupakan sebuah tragedi. Jepang pada akhirnya memang menyerah tanpa syarat pada negara-negara sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Sehari berselang, Kaisar Jepang Hirohito berbicara melalui siaran radio untuk pertama kalinya dan menyalahkan penggunaan bom baru yang kejam untuk memaksa Jepang menyerah. Beliau juga mengatakan bahwa seandainya Jepang melanjutkan perang ini, maka tak hanya kehancuran total yang dihadapi oleh manusia, tetapi juga peradaban manusia.

Salah satu bangunan yang sedikit tersisa pasca pemboman tersebut kini disebut sebagai Kubah Bom Atom. Monumen yang berada di Hiroshima ini kemudian dilestarikan sebagai sebuah tugu peringatan. Bangunan ini terletak di Taman Peringatan Perdamaian yang kemudian juga dinobatkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Cek jugan situs informasi data sgp, anda juga dapat mengetahui informasi lainnya tentang dunia bisnis dan game online terkini.